Dari Samata ke Alauddin: Jejak Kebun yang Terus Mencari Tempat untuk Bertumbuh

Perpindahan kebun tetangga di Samata adalah semacam perhentian kecil dalam perjalanan panjang. Tidak direncanakan, tapi justru di situlah banyak hal menjadi jelas. Orang-orang datang dengan berbagai tawaran—sebidang tanah, bantuan tenaga, sekadar bertanya, “Lalu setelah ini bagaimana?” Dari sana kami sadar: kebun tidak pernah hanya urusan tanah dan tanaman.

Kebun adalah cerita yang sedang tumbuh. Seseorang bisa datang sekali, berdiri sebentar, melihat-lihat, lalu pergi. Tapi jika kebun itu memberi ruang untuk bertukar pikiran, ia akan kembali. Ia akan duduk. Berjam-jam. Mendengar, bercerita, menyampaikan keresahan yang tak punya tempat lain untuk singgah.

Sulawesi Selatan, terutama Makassar, membutuhkan ruang semacam itu—ruang untuk bercerita tentang kebun, tentang hidup yang berusaha berdamai dengan tanah, cuaca, dan waktu. Bukan kebun yang merasa paling benar, bukan pula yang sibuk menjadi contoh. Kebun Tetangga dibangun sebagai tempat menyimpan pengetahuan: tumpukan kecil pengalaman, kegagalan, percobaan, dan obrolan yang mungkin terdengar remeh, tapi penting bagi mereka yang datang dengan pertanyaan.

Informasi itu mengendap perlahan. Disimpan rapi. Lalu, pada saat yang tepat, dikeluarkan—kepada siapa pun yang membutuhkannya. Seperti kebun itu sendiri: tidak pernah berteriak minta diperhatikan, tapi selalu ada bagi mereka yang mau singgah dan mendengarkan.

Kami merangkum segala kegiatan di Samata. Jika kalian tertarik untuk pelajari lebih lanjut silahkan lihat dibawah ini:

Kebun-Tetangga-Slide-2025-1

Keriuhan itu akhirnya mereda. Hari-hari ketika kami harus mengosongkan Kebun Tetangga di Samata kini tinggal sebagai ingatan. Ceritanya belum selesai, hanya berpindah halaman. Makassar tetap menjadi latarnya, dengan versi yang berbeda dan irama yang lebih pelan.

Kali ini Kebun Tetangga tumbuh di dalam lingkungan Pondok Pesantren Addaraen, di Jalan Alauddin. Proses menanam berjalan beriringan dengan proses belajar. Kami datang untuk bekerja bersama para santri—belajar membaca tanah, tanaman, dan kesabaran.

Ruang tumbuh dan tanam di pesantren ini perlahan kami pahami sebagai simbiosis. Kebun memberi ruang praktik dan jeda dari rutinitas, sementara pesantren memberi makna, arah, dan keberlanjutan. Tujuannya jelas tentang bagaimana merawat sesuatu agar tidak hanya hidup, tapi juga berguna.

Jika kelak ruang belajar ini berbuah, kami berharap panennya bukan sekadar sayur atau hasil kebun. Semoga ia bisa dipetik bersama—sebagai pengetahuan, sebagai kebersamaan, sebagai cerita baru Kebun Tetangga.